Contoh Kalimat Bahasa Sunda dari Kecap Sangaran - Kmpublisher.my.id

Contoh Kalimat Bahasa Sunda dari Kecap Sangaran

 Contoh Kalimat Bahasa Sunda dari Kecap Sangaran

Dalam bahasa Sunda, terdapat istilah yang dikenal sebagai "kecap sangaran", yang merujuk pada kata-kata yang memiliki ejaan dan pengucapan yang sama, namun memiliki makna yang berbeda.

Berikut ini adalah beberapa contoh kalimat dalam bahasa Sunda yang menggunakan kecap sangaran beserta artinya:

1. "Leutik"

"Anjeun leutik." (Anda kecil.)
"Anjeun mimiti leutik." (Anda mulai kecil.)

Kata "leutik" dalam kedua kalimat tersebut memiliki ejaan dan lafal yang sama, tetapi artinya berbeda. Pada kalimat pertama, "leutik" berarti "kecil", sedangkan pada kalimat kedua, "leutik" berarti "mulai kecil".

2. "Lalaki"

"Bapa aya lalaki." (Ayah ada di luar.)
"Bapa lalaki." (Ayah laki-laki.)

Kata "lalaki" pada kedua kalimat di atas juga merupakan contoh kecap sangaran. Pada kalimat pertama, "lalaki" berarti "di luar", sementara pada kalimat kedua, "lalaki" berarti "laki-laki".

3. "Sareng"

"Abdi sareng anjeun." (Saya bersama Anda.)
"Abdi kaluar sareng teman." (Saya pergi bersama teman.)

Kata "sareng" pada contoh kalimat di atas memiliki arti yang berbeda. Pada kalimat pertama, "sareng" berarti "bersama", sedangkan pada kalimat kedua, "sareng" berarti "bersama dengan".

4. Buku

"Abdi geus ngabaca buku di leungeun." (Saya sudah membaca buku di rumah). "Duitna ucing nyangka, leuleus ka buku kahayangna." (Anak itu mengira, bukunya terbuat dari kayu).

5. Keur

"Abdi keur ngagoréng lalampahan di dapur." (Saya sedang menggoreng lalapan di dapur). "Ngaliwatan awi keur ka kandang hewek." (Melalui bambu, menuju ke kandang kambing).

6. Nuju

"Abdi nuju nerangkeun pangajaran basa Sunda di kelas." (Saya sedang menuju untuk memberikan pelajaran bahasa Sunda di kelas). "Rombongan pengantin perempuan nuju ka rumah pangantin lalaki." (Rombongan pengantin perempuan sedang menuju ke rumah pengantin laki-laki).

7. Teuing

"Muhun teuing, naon téh nu kakuhan teu naos?" (Maaf, apa yang kamu katakan tidak jelas?). "Saha wae diéng ku handap, deui geus teuing sok aya kalakuhan." (Siapa pun yang mendengarnya, pasti akan merasa bingung).

8. Poé

"Poé Aki, jalma sok aya di cipageran." (Hari Minggu, orang-orang sering berlibur ke pantai). "Poé téh, angin geus hujan nyosog." (Hari ini, angin sudah bertiup setelah hujan).

9. Neda

"Abdi neda makan ku kuring di rorompok." (Saya sudah makan tadi di rumah). "Ayaww, ti sadayana panganten, nu neda pikeun nuju resepsi." (Wah, dari semua tamu undangan, yang datang untuk menghadiri resepsi paling sedikit).

10. "Ganteng"

Ganteng si Ucup sareng si Deni. (Gantengnya si Ucup dan si Deni.)
Saat ganteng mandi di sungai. (Air sungai yang jernih.)

11. "Handap"

Handap si Ayu di papan. (Ayu berbaring di atas papan.)
Handap undakan lalayang teu diurugan. (Tanah di bawah tangga yang tidak dirobohkan.)

12. "Jangjang"

Mangga jangjang dibeli di pasar. (Buah mangga yang manis dan lezat.)
Saha jangjangna di tukang bengkel? (Siapa yang memperbaiki kendaraannya?)

13. "Luwih"

Saeta luwih jeung luwih. (Waktu berlalu semakin cepat.)
Meuli luwih pisan, teu henteu guna. (Membeli yang lebih mahal, tapi tidak berguna.)

14. Dina

Dina teh abdi berangkat ka kantor. (Dina ini saya pergi ke kantor.) Dina: Mah urang geulis teh dina. (Dina ini kita cantik.)

Dalam contoh pertama, "dina" merujuk pada hari dalam Bahasa Sunda, sedangkan dalam contoh kedua, "dina" mengacu pada kata "cantik". Meskipun ejaan dan pelafalannya sama, makna yang terkandung berbeda secara signifikan.

15. Naha

Naha abdi kudu ka jalan. (Kenapa saya harus pergi ke jalan.) Naha: Ulah ngan lalaki, naha hidup teh sakit. (Jangan begitu, kenapa hidupnya sulit.)

Contoh di atas menunjukkan perbedaan makna dari kata "naha". Pada contoh pertama, "naha" berarti "kenapa", sedangkan pada contoh kedua, "naha" bermakna "kenapa" dalam konteks yang lebih luas, yaitu menggambarkan kesulitan hidup.

16. Bisa

Bisa teh abdi naék ka leuweung. (Bisa ini saya naik ke bukit.) Bisa: Naon bisa teh urang kumaha? (Apa yang bisa kita lakukan?)

Dalam contoh di atas, "bisa" dalam Bahasa Sunda memiliki dua makna yang berbeda. Pada contoh pertama, "bisa" berarti "mampu" atau "dapat", sedangkan pada contoh kedua, "bisa" bermakna "apa" dalam konteks pertanyaan.

Rundaian kata dari kecap Sangaran

Kalimat: "Abdi keur maca buku di kamar." Artinya: "Saya sedang membaca buku di kamar."

Kalimat: "Abdi keur neukteuk awi palebah bukuna." Artinya: "Saya sedang memotong bambu pas ruasnya."

Kalimat: "Ema keur ngagoréng tempe di dapur." Artinya: "Ibu sedang menggoreng tempe di dapur."

Kalimat: "Bapa ngala awi keur kandang hayam." Artinya: "Bapak menebang bambu untuk kandang ayam."

Kalimat: "Nuju pa Guru nuju nerangkeun pangajaran basa Sunda di payuneun kelas." Artinya: "Pak Guru sedang menerangkan pelajaran bahasa Sunda di depan kelas."

Kalimat: "Rombongan pangantén lalaki keur laleumpang nuju ka imah pangantén awéwé." Artinya: "Rombongan pengantin laki-laki sedang berjalan menuju ke rumah pengantin perempuan."

Kalimat: "Teuing kunaon ujug-ujug nyeri suku, padahal mah da teu titajong." Artinya: "Tidak tahu kenapa tiba-tiba sakit kaki, padahal tidak tersandung."

Kalimat: "Ulah loba teuing gula ninyuh kopi teh ambéh teu amis." Artinya: "Jangan terlalu banyak gula menyeduh kopi itu biar tidak manis."

Kalimat: "Poé Minggu mah sakola téh peré." Artinya: "Hari Minggu sekolah itu libur."

Kalimat: "Poé opak teh hésé garing da usum hujan." Artinya: "Jemur opak itu susah kering karena musim hujan."

Kalimat: "Abdi mah tos neda tadi di rorompok." Artinya: "Saya sudah makan tadi di rumah."

Kalimat: "Sim kuring neda pidu’a ti wargi-wargi sadayana wiréh enjing badé ngawitan didamel." Artinya: "Saya minta do’a dari saudara semua karena besok akan mulai bekerja."

Dalam bahasa Sunda, kecap sangaran memberikan kekayaan dan kompleksitas pada bahasa tersebut. Memahami perbedaan makna dalam penggunaan kata-kata yang serupa sangat penting agar dapat berkomunikasi dengan jelas dan tepat dalam bahasa Sunda.

Dengan mengetahui contoh-contoh kalimat seperti di atas, diharapkan kita dapat mengaplikasikan kecap sangaran, terimakasih semoga dapat bermanfaat.